BAB I
PENDAHULUAN
Seorang guru peranannya sebagai pengelola aktivitas yang harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas. Mengelola kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan kontrol, tetapi terletak pada ketrampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan.
Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekaligus. Dalam hal ini , guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang menyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapi.
Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan baik, professional, dan harus terus-menerus.
Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya dimasa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya dimasa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pendekatan Iklim Sosio- emosional
Pendekatan iklim sosio- emosional pada manajemen kelas dalam Maman Rachman (1997: 70- 76) berakar pada psikologi penyuluhan klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio- emosional yang positif pula.
Banyak gagasan yang bercirikan pendekatan sosio- emosional dapat ditelusuri pada karya Carl A. Rogers. Premis utamanya adalah: kelacaran proses belajar yang penting sangat tergantung pada kualitas sikap yang terdapat dalam hubungan pribadiantara guru dan peserta didik. Rogers mengidentifikasi beberapa sikap yang diyakini hakiki yaitu: ketulusan, keserasian, sikap menerima, menghargai, menaruh perhatian, mempercayai, dan pengertian empatik.
Sementara itu, Haim C. Ginnot menekankan pentingnya komunikasi yang efektif untuk meningkatkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, disamping keserasian, sikap menerima, empati, dan memberikan sejumlah contoh bagaimana sikap- sikap itu diwujudkan oleh guru. Cara guru berkomunikasi ialah dengan berbicara sesuai situasi, bukan dengan kepribadian atau watak siswa. Pada perilaku siswa yang tidak dikehendaki, guru dinasihatkan agar menerangkan apa yang dilihatnya, menjelaskan apa yang dirasakannya, dan menerangkan apa yang perlu dilakukan. Ginnot memberikan rekomendasi mengenai cara yang sebaiknya dilakukan oleh guru untuk berkomunikasi secara efektif sebagai berikut :
a. Alamatkan pernyataan kepada situasi siswa, jangan menilai dirinya karena hal itu dapat merendahkan diri siswa
b. Gambarkanlah situasi, ungkapkan perasaan tentang situasi itu, dan jelaskan harapan mengenai situasi tersebut.
c. Nyatakan perasaan yang sebenarnya yang akan meningkatkan pengertian siswa.
d. Hindarkan cara memusuhi dengan cara mengundang kerjasama dan memberikan pada siswa kesempatan untuk mengalami ketidak tergantungan.
e. Hindari sikap menentang atau melawan dengan cara menghindari perintah dan tuntutan yang memancing respons defensif.
f. Akui, terima, dan hormati pendapat serta perasaan siswa dengan cara yang meningkatkan perasaan harga dirinya.
g. Hindarkan diagnosis dan prognosis yang akan menilai siswa, karena itu akan melemahkan semangat.
h. Jelaskan proses dan tidak menilai produk atau pribadi, berikan bimbingan bukan kecaman.
i. Hindarkan pertanyaan dan komentar yang memungkinkan memancing sikap menolak dan mengundang sikap menentang.
j. Tolak memberikan godaan kepada siswa pemecah yang ditawarkan secara buru-buru, pergunakan waktu untuk memberikan bimbingan yang diperlukan oleh siswa untuk memecahkan masalahnya. Doronglah kemampuan untuk mengatur diri sendiri.
k. Hilangkan sarkasme, karena hal itu akan mengurangi harga diri peserta didik.
l. Usahakan penjelasan yang singkat, hindarkan khotbah yang bertele- tele yang tidak akan menurunkan motivasi.
m. Pantau dan waspadailah terhadap dampak kata-kata yang disampaikan kepada siswa.
n. Berikan pujian yang bersifat menghargai.
o. Dengarkan apa yang diungkapkan peserta didik dan dorong mengungkapkan buah pikiran dan perasaannya.
Pandangan lain yang dapat digolongkan sebagai pendekatan sosio- emosional adalah dari William Glasser yang menekankan pentingnya keterlibatan guru dengan menggunakan strategi manajemen yang disebutnya terapi kenyataan. Satu- satunya kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan identitas yaitu perasaan berhasil dan dihargai. Untuk mencapai identitas berhasil dalam konteks sekolah, seseorang harus mengembangkan perasaan tanggungjawab social dan harga diri. Tanggungjawab sosial dan harga diri adalah hasil yang diperoleh siswa yang telah mengembangkan hubungan yang baik dengan rhasilan yang penting adalah keterlibatan. Perilaku siswa yang menyimpang adalah buah kegagalannya mengembangkan identitas keberhasilan. Glasser mengemukakan delapan langkah untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini :
a. Secara pribadi melibatkan diri dengan siswa.
b. Memberikan uraian tentang perilaku siswa, menangani masalah tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa.
c. Membantu siswa membuat penilaian atau pendapat tentang perilaku yang menjadi masalah itu.
d. Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik.
e. Membimbing siswa mengikatkan diri dengan rencana yang telah dibuatnya.
f. Mendorong siswa sewaktu melaksanakan rencananya memelihara keterkaitannya dengan rencana tersebut.
g. Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila gagal meneruskan keterkaitannya, bantulah ia memahamibahwa ia sendirilah yang bertanggungjawab atas perilakunya.
h. Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan menghukumnya.
Rudolf Draikurs dalam kaitan dengan pendekatan sosio- emosional mengemukakan gagasan- gagasan penting yang mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif. Dua diantaranya ialah :
a. Penekanan pada kelas yang demokratis dimana siswa dan guru berbagi tanggung jawab , baik dalam proses maupun langkah maju.
b. Pengakuan akan pengaruh konsekuensi wajar dan logis atas perilaku siswa.
Mengembangkan kelas yang demokratis berasumsi perilaku dan pencapaian siswa dipermudah oleh suasana kelas yang demokratis pula. Dalam suasana kelas yang demokratis siswa diharapkan diperlakukan sebagai orang yang bertanggung jawab, individu yang mempunyai harga diri, yang mampu membuat keputusan dan memecahkan persoalan dengan terampil. Guru yang berusaha menciptakan suasana yang demokratis tidak boleh melepaskan tanggung jawabanya sebagai pemimpin. Menggunakan konsekuensi logis adalah akibat yang diterima dari sebab perilaku peserta didik itu sendiri. Konsekuensi logis sedikit banyak diatur oleh guru, tetapi merupakan akibat logis dari perilaku peserta didik.
- Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial
Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan) dalam Syaiful Bahri (1995: 181). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya, ada hubungan yang baik yang positif antar guru dengan anak didik, atau antara anak didik dengan anak didik. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan perananya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat. Untuk itu terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas sebagai berikut:
1. Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang wali/ guru kelas berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaanya yang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan saling menghormati antarpersonal di kelas. Setiap personal diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan kelas sesuai dengan kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga timbul suasana sosial dan emosional yang menyenangkan pada setiap personal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
2. Iklim sosial emosinal yang baik bergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif. Dari asumsi ini berarti dalam pengelolaan kelas seorang wali atau guru kelas harus berusaha mendorong guru-guru agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh saling pengertian, hormat-menghormati dan saling menghargai. Guru harus didorong menjadi pelaksana yang berinisiatif dan kreatif serta slalu terbuka pada kritik. Di samping itu, berarti guru harus mampu dan bersedia mendengarkan pendapat, saran, gagasan, dan lain-lain dari siswa sehingga pengelolaan kelas berlangsung dinamis.
Pendekatan sistem sosial dengan melihat kondisi sosial kelas sebagai subsistem dari organisasi sosial masyarakat, yang dipengeruhi oleh politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Akibat dari sistem sosial ini adalah kemungkinan tidak terwujudnya tujuan pendidikan. Pendekatan iklim sosial-emosional dalam (buku manajemen pembelajaran) merupakan pendekatan pengendalian perilaku atas hubungan positif antara guru dengan peserta didik dalam Alben Ambarita (2006: 54).
C. Hal-hal yang meliputi kondisi sosio-emosional
Ada beberapa hal yang meliputi kondisi sosiso- emosional, yaitu:
a. Tipe kepemimpinan
Peranan guru, tipe kepemimpinan guru atau administrator akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Tipe kepemimpinan yang lebih berat pada otoriter akan menghasilkan sikap siswa yang submissive atau apatis. Tetapi dipihak lain juga akan menumbuhkan sikap agresif. Kedua sikap siswa yaitu apatis dan agresif ini dapat merupakan problema manajemen, baik yang sifatnya individual maupun kelompok kelas sebagai keseluruhan. Dengan tipe kepemimpinan yang otoriter siswa hanya akan aktif jika kalau ada guru saja dan kalau guru tidak mengawasi maka semua aktivitas menjadi menurun. Aktivitas proses belajar mengajar sangat tergantung pada guru menuntun sangan banyak perhatian dari guru. Tipe kepemimpinan yang cenderung pada lazier-faire biasanya tidak produktif walaupun ada pemimpin. Kalau ada guru, siswa lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya ingin diperhatikan. Dalam kepemimpinan tipe ini malahan biasanya aktivitas siswa lebih produktif kalau guru tidak ada. Tipe ini biasanya lebih cocok bagi siswa yang “innerdirecterd” simana siswa tersebut aktif, penuh kemauan, berinisiatif dan tidak selalu menunggu pengarahan. Akan tetapi kelompok seperti ini biasanya tidak cukup banyak.
Tipe kepemimpinan guru yang lebih menekankan kepada sikap demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan siswa denga dasar saling memahami dan saling mempercayai. Sikap inidapat membantu tercipyanya iklim yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi belajar yang optimal. Siswa akan belajar secara produktif baik pada saat ada guru maupun tidak ada guru. Dalam kondisi semacam ini biasanya problema manajemen kelas bisa dipeerkecil sesedikit mungkin. Dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, guru harus menempatkan diri sebagai: model, pengembang, perencana, pembimbing, dan fasilitator (Centra, 1990). Guru sebagai model adalah guru yang tidak menuntut banyak disiplin kaku melainkan sebagai model. Ia mengharapkan dengan pemodelan yang ditampilkan dapat memberi pengalaman dan keantusiasan belajar siswa. Ia tidak menekankan kepada daya ingat terhadap apa yang dikatakan, melainkan mengingatkan siswa jika menemukan ide atau gagasan baru pada akhir pembelajaran.
Guru sebagai pengembang adalah guru yang ahli dalam melaksanakan tugas dengan format ia tidak membiarkan dan mengijinkan siswa bolos atau malas tanpa alasan yang sah. Ia suka mengadakan penilain terhadap segala bidang yang dikerjakan para siswa. Guru sebagai perencana adalah guru yang ahli dalam bidangnya, yang mengatur, kelas sebagai tata ruang belajar. Ia memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Ia menganggap bahwa para siswa belajar kepadanya karena ia mempelajari sebayak mungkin apa yang diketahui guru. Guru sebagai pembimbing adalah guru yang saling membelajarkan antara dirinya dengan sesama dan siswanya. Ia mengajar siswa dengan sistem sosial yang dinamis. Ia mengharapkan ada interaksi belajar antara diri dan siswanya. Ia mengajar karena mengetahui adanya perkembangan pribadi masing-masing individu, yang mengembangkan suasana saling percaya kan keterbukaan. Guru sebagai fasilitator adalah guru yang menyadari bahwa pekerjaannya merespon tujuan para siswa sekalipun tujuan itu bervariasi. Ia kurang menyenangi apabila ada siswa yang mendapat kesulitan belajar. Ia banyak mendengar dan bertanya kepada siswa. Ia menginginkan siswa dapat belajar dan mencapai tujuan sesuai harapannya.
b. Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah laku siswa dan bukan membenci siswanya iu sendiri. Terimalah siswa dengan hangat, sehingga ia insyaf dengan akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
c. Suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempenyai pengaruh besar dalam belajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau demikian rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa secara jelas dari jarak yang agak jauh akan mengakibatkan suasana gaduh. Keadaan seperti itu, juga akan membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara yang relative rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran. Mereka yang lebih berani mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sendiri, dan sebagainya. Tekanan suara hendaknya bervariasi sehingga tidak membosankan siswa yang mendengarnya. Hal yang penting dari itu semuanya adalah proses pembelajarannya akan semakin terarah.
d. Pembinaan hubungan baik
Pembinaan hubungan baik (report) antara guru dan siswa dalam masalah manajemen kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, realistik dalam kegiatan belajar mengajar yang sedang dilakukan serta terbuka terhadap hal-hal yangakan ada pada dirinya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendekatan iklim sosio- emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Ada dua asumsi tentang pengelolaan kelas:
1. Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.
2. Iklim sosial emosinal yang baik bergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif.
Ada beberapa hal yang meliputi kondisi sosio-emosional, antara lain sebagai berikut :
a. Tipe kepemimpinan
b. Sikap guru
c. Suara guru
d. Pembinaan hubungan baik
DAFTAR PUSTAKA
Ambarita, Alben, M. Pd. 2006. Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas dan Dirjen Pendidikan Tinggi.
http://lupieucimatta.wordpress.com/2009/10/25/pendekatan-sosio-emosional/. Didownload tanggal 14 Maret 2011.
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2108434-pendekatan-dalam-manajemen-kelas/. Didownload tanggal 14 Maret 2011.
Ranchman, Maman. 1997. Manajemen Kelas. Semarang: Depdikbud dan Dirjen Pendidikan Tinggi.
Syaiful Bahri Djamarah, M. Ag dan Drs. Aswan Zain. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.